Postingan

Menampilkan postingan dengan label budaya












RUMAH KAFE JEMBER sejak 2015
Set On New Normal Certified Barista by BNSP LSP KI

KOPI yang baik adalah sehitam IBLIS, panas seperti NERAKA, semurni MALAIKAT, dan manis kaya KAMU

Karena KOPI kita bisa PINTAR

Kedai kecil serasa rumah sendiri, dikelola dengan senyum serta tawa juga dikawal barista tersertifikasi dan menerapkan protokol kesehatan normal baru untuk mencegah COVID-19 dan penyebarannya

buka setiap hari mulai pk 18.00

PAKAI MASKER - CUCI TANGAN - JAGA JARAK - TETAP NGOPI
Temukan kami di Our Story | Instagram | Twitter | Facebook | Google | Maps | WAme

Curhat Tentang Pandemi Pas WhatsApp Error di Hari Sabtu dan Minggu

Gambar
Ketika Curhat Tentang Pandemi Corona Pas WhatsApp Error di Hari Sabtu dan Minggu Hari-hari seperti ini memang berat untuk dijalani Tetapi itu bukanlah alasan untuk menyerah Karena kita semua adalah Pejuang untuk Kehidupan ini kemarin adalah SEJARAH hari ini kita berjuang LAWAN CORONA hari esok adalah NORMAL YANG BARU  maka TERLIBATLAH jangan hanya diam supaya tidak GEGAR BUDAYA BARU yang akan datang Hanya perlu berubah untuk membiasakan diri Mari Berjuang Bersama-sama!! Salam Hangat #RumahKafeJember

Pepatah Jawa Ngunduh Wohing Pakarti

Gambar
Seri Belajar Petuah Bijak Jawa  - Ngunduh Wohing Pakarti Peribahasa di atas secara harfiah berarti memanen buah pekerjaan/tindakan. Secara luas peribahasa ini ingin mengajarkan tentang orang yang menuai dari buah tindakannya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan misalnya karena seseorang selalu mencelakai atau merugikan orang lain, maka pada suatu ketika ia pun akan diperlakukan demikian pula oleh orang lain. Peribahasa ini sesungguhnya merupakan representasi dari paham kepercayaan akan hukum karma yang sampai sekarang masing dianut oleh banyak orang Jawa (Indonesia). Peribahasa tersebut menjadi penanda akan adanya keyakinan hukum harmonium alam raya. Hal ini bisa dicontohkan pula misalnya karena manusia menebangi hutan semaunya, maka bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan pun mengancam. Dapat saja terjadi bahwa undhuh-undhuhan atau panen dari pakarti itu tidak mengenai orang yang berbuat namun mengenai saudara, anak, cucu, pasangan hidup, dan keturunannya. Oleh karena itu

Pepatah Jawa - MENANG MENENG NGGEMBOL KRENENG

Gambar
Seri Belajar Petuah Bijak Jawa  - Menang Meneng Nggembol Kreneng Terjemahan bebasnya kurang lebih "Saat menang diam, membawa keranjang". Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti diam-diam mengantongi kreneng. Kreneng dalam khasanah Jawa menunjuk pada pengertian sebuah benda menyerupai keranjang yang terbuat dari bilah bambu yang diraut tipis dan lentur. Kreneng ini berfungsi untuk membungkus atau mewadahi barang-barang belanjaan yang dibawa oleh seseorang. Umumnya kreneng berfungsi sebagai kantong atau tas sementara yang kemudian bisa dibuang begitu saja setelah barang yang berada di dalamnya dikeluarkan. Pepatah Jawa di atas secara luas ingin menggambarkan perilaku seseorang yang di permukaan (fisik, lahiriah) kelihatan pendiam, tidak banyak omong akan tetapi di pikiran dan di hatinya sebenarnya dia tengah mempersiapkan atau menyimpan sesuatu (yang umumnya tidak baik). Entah itu berupa rencana-rencana atau tujuan-tujuan yang tidak mulia. Entah itu rekaya

Pepatah Jawa - DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE

Gambar
Pepatah Jawa - DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE Seri Belajar Budaya Jawa - Pepatah Jawa DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE Pepatah di atas secara harfiah berarti diambil ikannya jangan sampai keruh airnya. Pepatah ini mengandaikan pada sebuah peristiwa perburuan ikan di kolam atau di sebuah sungai. Pada umumnya pengambilan ikan di kolam atau sungai selalu menimbulkan kekeruhan pada air tempat ikan tersebut diambil. Hal ini terjadi karena gerakan tubuh manusia, benda lain, atau bahkan gerakan ikan itu sendiri di dalam air tersebut sehingga mengubak atau mengaduk air kolam/ sungai. Idealnya adalah ikan yang diincar bisa diambil namun air yang melingkupinya jangan sampai menjadi keruh atau butek. Pepatah ini secara luas menyangkutkan persoalannya pada pengambilan kebijaksanaan atau penyelesaian masalah yang diidealkan jangan sampai menimbulkan korban atau masalah baru. Hal ini dapat dicontohkan misalnya pada kasus pencurian yang dilakukan oleh sese

Pepatah Jawa - GELEM JAMURE EMOH WATANGE

Gambar
Pepatah Jawa  - GELEM JAMURE EMOH WATANGE     Serial Belajar Petuah Bijak Jawa - Gelem Jamure Emoh Watange Pepatah  Jawa  di  atas  secara  harfiah  berarti  mau  jamurnya  tidak  mau bangkainya. Pepatah  tersebut  secara  luas  ingin  menggambarkan  keadaan  (seseorang) yang  hanya  mau  enaknya  tetapi  tidak  mau  jerih  payahnya.  Hal  ini  bisa  dicontohkan  dengan  misalnya  sebuah  perhelatan  besar  di  sebuah  dusun atau organisasi. Ketika persiapan, kerja bakti, dan lain-lain sedang dilakukan ada orang yang tidak mau terlibat karena mungkin takut kotor, takut capai, takut  dianggap  pekerja  kasar, takut  dianggap  sebagi  buruh  yang  tidak berkelas, dan sebagainya. Akan tetapi ketika perhelatan itu sukses, maka orang yang tadinya tidak mau bekerja  kasar  itu  tiba-tiba  mengaku-aku  bahwa  dialah  perancang  atau arsiteknya. Jadi dialah yang patut diberi aplaus atau pujian. Bukan yang lain. Contoh  lain  dari  pepatah  ini  bisa  juga  dilihat  misalnya  dalam

SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI - Pepatah Jawa

Gambar
 SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI Seri belajar budaya Jawa, tidak ada salahnya untuk mempelajari budaya Nusantara yang sangat beragam. Kali ini melalui pepatah Jawa . Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jari (lebar)-nya  bumi  bertaruh  kematian. Secara  luas  pepatah  tersebut  berarti  satu sentuhan pada dahi dan satu pengurangan ukuran atas tanah (bumi) selebar jari  saja  bisa  dibayar,  dibela  dengan  nyawa  (pati). Pepatah di atas sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa tanah dan kehormatan atau harga diri bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membela semuanya itu dengan taruhan nyawanya.  Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap  sebagai  penghinaan. Demikian  pula  penyerobotan  atas kepemilikan  tanah  walapun  luasnya  hanya  selebar  satu  jari  tangan. Sadumuk  bathuk  juga  dapat  diartikan  sebagai  wanita/pria  yang  telah  syah mem

Pepatah Jawa - Seri Belajar Jawa

Gambar
Seri Belajar Budaya Jawa KEMLADHEYAN NGAJAK SEMPAL MARI BELAJAR DARI PEPATAH, hari ini adalah pepatah Jawa. Pepatah  Jawa  di  atas  secara  harfiah  berarti  benalu  mengajak  patah. Pepatah  ini  dalam  masyarakat  Jawa  dimaksudkan  sebagai  bentuk  petuah atau sindiran bagi orang yang menumpang pada seseorang, namun orang yang menumpang itu justru menimbulkan gangguan, kerugian, dan bahkan kebangkrutan bagi yang ditumpanginya. Benalu juga dikenal serta dan jenis tanaman parasit yang menghisap sari-sari makanan dari pohon  yang  ditumpanginya.   Dalam  pepatah  di  atas  benalu  tersebut  tidak saja digambarkan  menghisap  sari-sari  makanan  dari  induk  tanaman  yang ditumpanginya,  namun  benalu  tersebut  justrum engajak  dahan  yang ditumpanginya untuk patah. Hal ini bisa terjadi pada sebuah keluarga yang menampung seseorang (atau semacam  indekosan)  akan  tetapi  orang  yang  menumpang  itu  dari  hari  ke hari justru menimbulkan kerugian pada ya